Kamis, 12 November 2015

HASAN BASHRI DAN GADIS KECIL

image


SORE itu Hasan Bashri, seorang tabi’in terkemuka, sedang duduk di teras rumahnya. Tak lama kemudian lewat iringan jenazah dengan rombongan pelayat dibelakangnya. Dibawah keranda yang diusung, berjalan seorang gadis kecil sambil terisak-isak. Ia adalah putri orang yang sedang meninggal itu.

Keesokan harinya, usai salat subuh, gadis kecil itu bergegas lagi ke makam ayahnya. Hasan Bashri mengikutinya sampai ke makam. Ia bersembunyi dibalik pohon, mengamati gerak-gerik gadis kecil itu secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di depan gundukan makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar jelas oleh Hasan Bashri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan pelipur? Ayah,kemarin malam aku nyalakan lampu untukmu, semalam siapa yg menyalakannya untukmu?

Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya?
Ayah, kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa memijatmu semalam? Ayah, kemarin aku memberimu minum, siapa yg memberi minum tadi malam kepadamu?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yg satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam?”
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan Bashri tak kuasa menahan tangis. Ia keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

“Hai gadis kecil! Jangan berkata seperti itu, tetapi, ucapkanlah, ‘Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah engkau masih seperti itu atau telah berubah?.

Ayah, kami kafani kau dengan kain terbaik, masih utuhkah kain kafan itu?
Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanya imannya. Ada yang menjawab dan ada yg tidak.
Bagaimana dengan ayah? Apakah engkaku bisa mempertanggungjawabkan imannmu, ayah? Ataukah engkau tak berdaya?
Ulama mengatakan, kubur sebagai taman surga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau kadang menghimpitnya seperti tulang belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dihimpit ayah?
Kata ulama, orang yg dikebumikan menyesal, mengapa tak memperbanyak amal baik. Orang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekan mu ataukah karena amal baikmu sedikit, Ayah?
Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tak bisa menemuimu lagi hingga hari kiyamat nanti. Wahai Allah, janganlah Engkaku rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayaku, betapa baik bimbingan yang telah kuterima, engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian Hasan Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Post By Santosa Uyee

Assalamu’alaik Ya Ali Zainal Abidin

FARAZDAQ, seorang pujangga Arab tersohor,, pernah melukiskan IMAM ALI ZAINAL ABIDIN as. Dia adalah lelaki yang tampan. Dari tubuhnya menebar bau harum segar. Pada dahinya terdapat bekas sujud. Karenanya, orang-orang mengenal beliau dengan gelar As-Sajjad (yang banyak bersujud).

image
Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa. “Allahu Akbar!” suara lelaki itu mengawali shalatnya. Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud.

Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do’a. Seusai shalat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah… Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya. “Rupanya malam sudah larut…,”bisiknya. Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.
Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkan nya. Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.
“Alhamdulillah…,harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,”kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya. Ketika hari mulai terang,orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu. “Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!” seru orang yang mendapat jatah makanan. “Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakan nya untuk kita!” sambut yang lainnya.
Begitu pula pada malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan. “Sungguh! Kita terbebas dari kesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!” kata orang miskin ketika pagi tiba. “Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong…,” timpal seorang temannya. Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungannya.
Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya? Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparan. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.
Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya! “Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak…,” orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin. Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.
Ali menurunkan karung dipundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok sehingga membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali. “Siapa kau?!” tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu. “Ampun, Tuan….jangan siksa saya…saya hanya seorang budak miskin…,” katanya ketakutan. “Kenapa kau merampokku?” Tanya Ali kemudian. “Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan wajah pucat. Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus. “Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat…” “Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?” kata Ali. Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub. “Sekarang pulanglah!” kata Ali.
Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis. “Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertaubat kepada Allah…saya berjanji tidak akan mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal. Ali tersenyum dan mengangguk–anggukkan kepalanya.
“Hai, orang yang bertaubat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah Maha pengampun.” Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertaubat atas kesalahannya. “Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini…,” kata Ali sebelum orang itu pergi.” Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku,” sambung Ali, dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.
Suatu ketika setelah wafatnya Ali Zainal Abidin, orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang. Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya, “Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?”
“Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah,” kata orang yang bertaubat itu dengan rasa haru. Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan……

Post By Santosa Uyee

Hiburan Untuk Rasulullah Saw

image

____Ketika Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam sedang gundah atau risau, ada seorang sahabat yang menghibur beliau shallallahu’alayhi wa sallam yaitu sayyidina ‘Nuaiman’ Radiyallahu’anhu.
Ketika wajah Rasulullah sallallahu’alayhi wasallam tampak berbeda karena marah, Nuaiman datang membawa seekor kambing dengan maksud ingin membahagiakan Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam.
“Wahai Rasul, terimalah kambing ini”
Rasul menjawab, ‘Terimakasih wahai Nuaiman’
Selang beberapa waktu, datang seorang penjual kambing menagih pembayaran kepada Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam seraya berkata: “Mana uang pembayarannya Ya Rasulullah?”
Maka Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam- kaget. ‘Ini saya dikasih oleh Nuaiman!’… ‘Mana panggil Nuaiman kesini’
“Na’am Ya Rasulullah, aku ingin menghiburmu agar engkau bahagia, namun ku tak punya apapun, oleh karenanya aku membawakan kambing padamu, namun aku tak punya uang,,,, biar engkau yang membayarnya Wahai Rasululah”
(Masya Allah)
Lantas Rasulullah pun tersenyum lalu menyerahkan kepada para sahabat untuk mengurus pembayaran kambing tersebut.

Indahnya budi pekerti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan indahnya jiwa2 sahabat yang slalu ingin membahagiakan Rasulullah Shallallahu’alayhi wasallam.
(Diceritakan oleh Al-Habib Munzir Al-Musawa)

Post By Santosa Uyee

Kenapa Sayyidah Fathimah Dicintai Rasulullah?

Suatu ketika Sayyidah Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah SAW, berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada janazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan sayyidah Fatimah Azzahra. Saat itu Sayyidah Fatimah bersama Sayyidah Asma binti khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Sayyidah Fatimah setelah kepergian Rasulullah SAW.

fathimah azzahro
Tiba-tiba saat itu Sayyidah Fatimah menangis tersedu-sedu hingga membuat Sayyidah Asma panik lalu bertanya, “ wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat janazah itu? ada apa dengan janazah itu? ”Sayyidah Fatimah menjawab, setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa kelokasi pemakaman dengan di panggul oleh orang-orang yang membawanya?” (Dahulu sebelum adanya keranda mayat jika ada orang meninggal maka di saat dibawa ke kubur janazah dipanggul di atas pundak orang-orang yang membawanya). Sayyyidah Asma menjawab,  “Tentu wahai putri Rasulullah? ” Kemudian Sayyidah Fatimah melanjutkan,” Dan akupun kelak akan di bawa kekubur seperti itu?” Sayyidah Asma menjawab “Benar wahai putri Rasulullah”. Lalu Sayyidah Fatimah melanjutkan ” Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal, kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas punggung orang-orang yang membawaku kekubur, sementara orang yang mengiring janazahku akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku”.

Mendengar ungkapan Sayyidah Fatimah ini Sayyidah Asma berkata ” wahai putri Rasulullah, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat janazah yang di bawa kekubur, janazah diletakkan di sebuah tempat yang di sebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh janazah yang dibawa”.
Mendengar cerita Sayyidah Asma ini tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata ”wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan”. Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka di buatlah keranda mayat untuknya.
Yang perlu di cermati dari kisah ini adalah sifat mulia Sayyidah Fatimah yang senantiasa merasa malu jika ada yang melihat lekuk tubuhnya, meskipun disaat beliau sudah meninggal. Dan karena rasa malu yang dimiliki oleh Fatimah inilah menjadi rahasia, kenapa Sayyidah Fatimah menjadi wanita yang paling mullia dan dicintai Rasulullah SAW.
Dan Saat ini, di hari ini! Adakah sifat mulia sayyidah Fatimah menempel pada wanita yang berada di rumah kita? Atau di rumah kita ada orang yang mengaku mencintai Rasulullah akan tetapi di saat masih hidup pun tidak merasa malu jika lekuk-lekuk tubuhnya di saksikan orang di sana-sini. Atau justru pamer lekuk tubuh telah menjadi kebanggan para wanita yang mengaku kenal Sayyidah Fatimah dan kenal Rasulullah? Jangan sampai ada yang berkata “ yang penting hati bersih masalah dandanan tidak penting”. Hati Sayyidah Fatimah sungguh jauh dan jauh lebih bersih dari hati wanita – wanita yang kita saksikan saat ini. Justru karena kebersihan hati beliaulah maka Sayyidah Fatimah sangat pemalu dan senatiasa menjaga aurat beliau.
Ya Allah Yang Maha Pengasih, berikan kasih sayangmu kepada kami dan kepada para wanita wanita kami ! Tutuplah aurat mereka ! Berikan kepada mereka rasa malu yang menjadikan mereka senatiasa menjaga aurat dan kehormatan mereka.
Wallahu a’lam bissawab.

Post By Santosa Uyee

Cinta Sawad R.A

image
___Dalam perang Badar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meluruskan barisan sahabat (yg akan berangkat perang). Di antara para sahabat itu terdapat orang bernama Sawad. Sawad adalah orang yang tak meluruskan diri dalam barisan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, ‘Hai Sawad, luruskan!’ Dia menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’
Beliau melanjutkan meluruskan barisan. Ternyata, Sawad kembali berada di luar barisan.

Beliau lalu bersabda: ‘Hai Sawad, luruskan!’

Dia mnjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’
Beliau melanjutkan meluruskan barisan. Ternyata, Sawad kembali berada di luar barisan untuk yang ketiga kalinya. Rasulullah kemudian mengambil kayu siwak dan memukul perut Sawad. Sawad lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau telah menyakiti aku. Sekarang aku menuntut balas.’ Rasulullah kemudian membuka bagian perutnya dan bersabda, ‘Sekarang, balaslah, hai Sawad!’

Sawad lalu merangkul perut Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam yang mulia dan menciumnya. Rasulullah bertanya: ‘Mengapa kamu melakukan ini, hai Sawad?’ Dia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kukira hari ini adalah hari kesyahidanku. Aku ingin di akhir hidupku di dunia ini, tubuhku bisa bersentuhan dengan tubuhmu sehingga Allah akan mengharamkan api neraka menyentuh tubuhku.’

___
Allahumma shalliy ‘ala Muhammad


Post By Santosa Uyee

Kisah Hasan Bin Tsabit

Dalam satu tausiyah Habib Syech Abdul Qadir Assegaf, beliau menyampaikan sebuah kisah keluhuran kepribadian Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam yang menjadi sebuah kenangan mendalam bagi seorang sahabat bernama ‘Hasan bin Tsabit’ [radiyallahu’anh].

tausiyah habib syech bin abdul qodir assegaf
Suatu ketika para sahabat tengah berkumpul menanti kedatangan Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam. Mereka bersepakat untuk tidak bangun dari duduk bilamana Rasulullah shalallahu’alayhi wasallam tiba dihadapan mereka. Hal ini karena telah dipesankan oleh Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam.

Tapi lain halnya dengan apa yang dilakukan Hasan bin Tsabit. Ketika Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam tiba, Hasan bin Tsabit segera berdiri memberikan penghormatan. Seluruh pandangan para sahabat yang lain mengarah kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam bertanya: ‘Wahai Hasan, mengapa engkau melakukan ini?’ Hasan bin Tsabit menjawab, dengan menguntai syair yang spontan meluncur dari lisannya:
Duhai kekasih kami….
aku berharap dapat melihatmu dengan segenap pengharapan
seperti aku tak akan punya
kesempatan lagi bisa melihatmu..
Betapa indahnya dirimu
sehingga tak ada lagi perempuan yang
akan melahirkan lagi sosok sepertimu

Duhai kekasih kami…
salam ta’zimku buat dirimu yang aku cintai

Usai mengucapkan kata-kata itu, sekonyong-konyong Hasan bin Tsabit menyungkurkan dirinya dihadapan Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam. Rasulullah dengan setengah membungkuk, mengangkat bahu Hasan untuk berdiri.
Lalu beliau memeluknya, seraya berkata: “WAHAI HASAN, KELAK ENGKAU AKAN BERSAMA DENGAN ORANG YANG ENGKAU CINTAI INI”


Post By Santosa Uyee

Tangisan Rindu Seorang Penyair

DAHULU di masa seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya.

460844_10150840800479195_1346740732_o
Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membaca qasidah di makam beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya, setelah selesai membaca qasidah orang itu menemui syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya,

beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah Al Munawwarah hingga sampai di rumah orang tersebut, sesampainya di dalam rumah orang tersebut memegangi syaikh Farazdaq dan berkata: “sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan kubawa engkau kesini untuk kugunting lidahmu”,  maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata : “ambillah potongan lidahmu ini, dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad”,
Maka Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berdoa : “Ya Allah jika shahib makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji nabi-Mu, namun jika Engkau dan nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula”,
Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata : “aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula, dan ketika syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya, beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu, dan sesampainya di rumah anak muda itu beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu beliau datangi lalu lidah beliau dipotong, anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata :
“engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera”. Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

( الأعراف :166 )

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka jadilah kalian kera yang hina”. ( QS. Al A’raf : 166 )
Kemudian anak muda itu berkata: “jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja”,  maka syaikh Farazdaq berkata : “Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya”, dan seketika itu pun Allah subhanahu wata’ala mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.
Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang suka memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena pujian kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam disebabkan oleh cinta dan banyak memuji kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berarti pula banyak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semakin banyak orang yang berdzikir, bershalawat dan memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalla, maka Allah akan semakin menjauhkan kita, wilayah kita dan wilayah-wilayah sekitar dari musibah dan digantikan dengan curahan rahmat dan anugerah dari Allah subhanahu wata’ala.
Diceritakan oleh: Alhabib Munzier Al-Musawa

Post By Santosa Uyee
Design by Santosa Uyee Visit Original Post Putra ka'bah